TEORI KOMUNIKASI
KONTEMPORER
Oleh : Wilda Misbahatil Maghfiroh
·
Pentingnya belajar teori komunikasi?
Sebagai
mahasiswa ilmu komunikasi kita harus tahu keberadaan fenomena komunikasi yang
ada disekeliling kita dengan mempergunakan perspektif atau cara pandang
komunikasi.”if you don’t know communication then you don’t know anything”.
Sulit untuk mendefinisikan pengertian komunikasi. Karena pada dasarnya, setiap
orang dapat membuat pengertian komunikasi sesuai dengan pemahamannya.
Komunikasi bersifat multidisiplin dipengaruhi sosiologi, antropologi,
psikologi, sastra, politik, matematika, dll. Apabila belajar ilmu komunikasi
harus belajar juga ilmu-ilmu yang lain.
·
Teori
Sekumpulan kontruks yang saling mengkait
dalam menjelaskan sebuah fenomena
·
Komunikasi
Pengiriman pesan dari komunikator atau sumber
pesan kepada penerima yang akan menimbulkan efek
·
Tingkatan Bagian Teori
a. Konsep:
generalisasi hal-hal yang bersifat abstrak. Dapat
diamati.
b. Konstruk:
konsep yang dapat diukur. Teori.
c. Variable: konstruk memiliki variasi nilai.
Penelitian
·
Cara mempelajari teori komunikasi
a.
Pahamu
teori ada di tingktan konstruk
b.
Tahu
pada level apa fenomena yang diaamati
-
Komunikasi
interpersonal
-
Komunikasi
kelompok
-
Komunikasi
organisasi
-
Komunikasi
massa
c.
Pahami
peta teori pada masing masing level komunikasi
-
Peta
teori dari masing-masing kelompok
·
Peta Teori Komunikasi Massa
a. System
Sosial Budaya
Kajian
makro – menghubungkan isi dan intuisi media dengan system sosial budaya
b. Media
Media
dilihat sebagai isi dan instuisi
c. Khayalak
Kajian
mikro – menghubungkan antara isi media dengan khayalaknya
·
Media
ü Teori Semiotika
ü Teori The Medium is The Message
·
Kajian Mikro
ü Teori Jaringan Komunikasi
ü Teori Difusi Inovasi
ü Teori Peluru
ü Teori Two Step Flow Communication
ü Teori Uses And Gratification
ü Teori Agenda Setting
ü Teori Dependensi
ü Teori Multi-Step of Communication
·
Kajian Makro
ü Teori Kultivasi
ü Teori Spiral Of Silence
ü Teori Fungsional Media
ü Marxist Teori
Teori Komunikasi Kontemporer
Komunikasi
kontemporer adalah perkembangan komunikasi yang terpengaruh oleh dampak
modernisasi. Komunikasi kontemporer sering diidentik dengan komunikasi virtual,
komunikasi virtual adalah proses penyampaian pesan yang dikirimkan melalui
internet atau cyberspace. Teori Komunikasi Kontemporer
memiliki 2 suku kata, yaitu komunikasi dan kontemporer. Dimana komunikasi
sendiri berasal dari bahasa latin, “communis” yang berarti membangun
kebersamaan antara 2 individu atau lebih. Sedangkan kontemporer yang berasal
dari kata “co” yang artinya bersama dan “tempo” yaitu waktu. Jadi menurut kata,
kontemporer adalah waktu bersamaan. Secara umum, kontemporer artinya, kekinian,
modern, atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang
sama atau saat ini. Jadi, komunikasi kontemporer adalah perkembangan komunikasi
yang terpengaruh oleh dampak modernisasi.
Teori Cultural Studies
Lahir
di tengah semangat Neo-Marxisme yang berupaya untuk mendefinisikan Marxisme, sebagai
perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni budaya tertentu. Cultural
studies berakar dari gagasan Karl Marx, yang mempunyai pandangan bahwa
kapitalisme telah menciptakan kelompok elit kuasa untuk melakukan eksploitasi
terhadap kelompok yang tidak berkuasa dan lemah. Pengaruh kontrol kelompok
berkuasa terhadap yang lemah menjadikan kelompok yang lemah merasa tidak
memiliki kontrol atas masa depan mereka. Para pendiri cultural
studies memiliki latar belakang pendidikan Sastra, dapat ditilik dari
perkembangan paham strukturalisme dalam kritik-kritik Sastra yang berkembang
pesat di Eropa pada masa itu. Cultural Studies adalah studi
kebudayaan atas praktek signifikasi representasi, dengan mengeksplorasi
pembentukan makna pada beragam konteks.
a.
Pengertian
Cultural studies, sebagaimana
namanya, “studies” (kajian-kajian), bukan “cultural
study” yang memuat makna “study” (kajian) yang bermakna tunggal,
memuat pengertian kajian-kajian budaya dalam pengertian dan ruang
lingkup yang luas dan multi, seperti dikatakan Stuart Hall, “cultural
studies has multiple discourses”. Ia memiliki daya jangkau lintas
disiplin ilmu, dan berusaha menjelaskan realitas sosial kontemporer dari
berbagai disiplin ilmu tersebut. Cultural studies hadir untuk
mendamaikan klaim parsial tersebut dengan menghadirkan kajian-kajian lintas
disiplin ilmu, inter dan multidisipliner dengan memasukkan teori dan metode
dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk lebih mampu
menjelaskan realitas sosial maupun representasinya dalam kehidupan
sosial kontemporer.
Kajian-kajian
lintas disiplin tersebut dinamakan “budaya”, “kajian-kajian
budaya” (cultural studies) karena “budaya” mengandung pengertian dan
ruang lingkup yang luas, yang dalam hal ini “cultural
studies” berbeda dari “the study of culture”. Cultural
studies adalah sebuah metode dan teori, dalam ranah paradigma
kebudayaan (cultural paradigm), sedangkan “the study of
culture” adalah kajian tentang budaya. Budaya, seperti
dinyatakan oleh Simon During dalam buku Cultural Studies: A Critical
Introduction, bukanlah benda atau bahkan sistem, tetapi mengacu pada pengertian
seperangkat transaksi, proses, mutasi, praktik, teknologi, institusi dan segala
benda dan peristiwa yang diproduksi untuk menyatu dalam pengalaman hidup,
makna-terberi (given meanings), dan nilai-nilai.
Di
sini, cultural studies memandang budaya sebagai teks. Pandangan
ini mendapat penguatan dari Raymond Williams yang memaknai
budaya (culture) sebagai pengalaman hidup, teks, praktik,
makna-makna (meanings) yang dimiliki oleh dan telah menjadi aturan
main di masyarakat.
Selanjutnya Raymond Williams sebagaimana dikutip oleh Chris
Barker dan Dariusz Galasinski, memaknai budaya sebagai “a whole way of
life”, meliputi keseluruhan bentuk-bentuk signifikasi dalam makna-makna dan
kondisi yang diproduksinya. Mengikut pandangan ini maka, cultural
studies berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia sehari-hari sebagai
bagian dari budaya yang dicermati, yakni hal-hal yang biasa dilakukan,
dirasakan, dibicarakan, didengar, dilihat dan dialami dalam kehidupan
sehari-hari oleh orang kebanyakan. Ini yang menjadi salah satu ciri
terpenting cultural studies. Atau menurut kata
William, cultural studies mengurusi kajian-kajian
tentang “intersection of language, meanings and power”.
Sejalan dengan ini
adalah pemikiran Stuart Hall yang memberikan
pengertian cultural studies berkaitan dengan kekuasaan dan politik.
Menurut Hall, sebagaimana dikutip Chris Barker, cultural studies merupakan
suatu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan
teoretis sebagai praktik politik. Dalam hal ini pengetahuan tidak pernah
menjadi fenomena netral atau objektif, tetapi memiliki posisionalitas,
tergantung dari posisi mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.
b. Ruang
lingkup
Cultural
studies memiliki ruang lingkup yang luas, dan secara konsisten senantiasa
memberi perhatian pada masalah dan isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta
kebutuhan akan perubahan sosial. Ia hadir dalam kajian-kajian
tentang produksi pengetahuan, praktik politik, serta berdiri di
tengah pemaknaan, bahasa dan kekuasaan, dalam masyarakat kontemporer.
Karenanya
kajian cultural studies ini mengikuti karakter masyarakat kekinian,
dan dalam ulasan Mudji Sutrisno
dalam buku yang dieditorinya bersama Hendar Putranto, “Teori-Teori Kebudayaan”, mencakup kajian-kajian budaya
sebagai kritik ideologi, masalah-masalah integrasi sosial, transformasi sosial,
perilaku, budaya sebagai teks, yang membentang dari strukturalisme hingga
post-strukturalisme, psikoanalisis dan post-modernisme.
Ulasan lain, dari
Chris Barker misalnya, bukunya, Cultural Studies memuat bentangan
ruang lingkup cultural studies yang lebih luas lagi yakni
kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan,
linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas,
politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Bentang ruang lingkup
kajian cultural studies ini dapat dikatakan bahwa
karakter cultural studies adalah bahwa ia meneliti atau mengkaji
berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan
produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.
c. Metode
Pendekatan dan paradigma
yang digunakan cultural studies, menurut Barker
adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata),
tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi
resepsi (reception study, eklektis). Sedangkan metode, secara
keseluruhan, cultural studies memilih metode
kualitatif, dengan fokus
pada makna budaya. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah
penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur
pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka
karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode
berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir
linear, dualis dan statis. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi
karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang
sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut
catatan Akhyar Yusuf Lubis, diantaranya adalah:
1.
Hermeneutika, dengan berbagai variannya, seperti
semiotika.
2.
Multiperspektif,
dengan memasukkan politik, budaya dan kekuasaan. Metode yang diajukan oleh
McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan
audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya. Metode ini
disebut juga “pluralitas perspektif”, digunakan dalam penelitian-penelitian
yang bersifat lokal, dengan hasil berupa narasi-narasi kecil (little
naration). Di sini, kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan
bahasa, yang didasarkan pada aspek lokalitas.
3.
Fenomenologi.
Adalah metode untuk menangkap fenomena, atau metode untuk melihat segala
sesuatu yang memberikan-dirinya (self-given) menurut cara
keterberiannya masing-masing yang khas dan singular/ perspectival (its
manner of givenness). Kuncinya, terletak pada: cara-bagaimana sesuatu itu
memberikan-dirinya/ menyingkapkan-dirinya; atau dengan kata lain: cara-berada
dari sesuatu. Lebih lanjut
tentang fenomenologi.
4.
Etnografi.
Menurut James P. Spradley, metode ini menjelaskan fakta atau realitas sosial
secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur
pengalaman subjek (native’s point of view). Ia menangkap
makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti,
bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya
“mempelajari masyarakat” (learning about the people).
5.
Dekonstruksi. Metode ini merupakan “perlucutan” yang
dilakukan oleh Derrida atas oposisi biner dalam filsafat
Barat, untuk menampakkan titik kosong teks dan asumsi yang tidak dikenal. Untuk
ini Derrida menciptakan metode “pembacaan-mendalam” atas teks yang mirip
psikoanalisis, menggunakan prosedur memeriksa unsur-unsur kecil dalam momen
yang tidak dapat dipastikan atau dipersepsi.
6.
penelitian
partisipatoris.
d. Teori
Beberapa teori yang
dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh
Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”, diantaranya,
adalah:
1.
Semiotika
(Roland Barthes) Teori ini memahami aspek budaya
melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan
dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur.
2.
Habitus
(Pierre Bourdieu) Habitus adalah struktur mental
atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya.
Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah
konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan.
Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat pada kelas atau
kelompok sosial.
3.
Teori
Industri Budaya (Walter Benyamin) Teori ini memandang industri budaya sebagai
produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik.
4.
Teori
Hegemoni (Antonio Gramsci) Teori ini berfokus pada kajian
tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan
budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan.
Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan
tetap dapat mempertahankan status quo.
5. Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire) Teori ini, yang merupakan cultural
studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya
sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan.
Sementara itu,
beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan
masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh
Raymond William, dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh
Jacques Lacan, beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj
Zizek dan Yannis Stavrakakis. Patut
dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan
untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori
(baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan
bidang telaah cultural studies.
e.
Konsep
1)
Representasi
Unsur
utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik
pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan
direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan
makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu,
yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program
televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks
sosial tertentu.
2)
Identitas
Dalam cultural studies,
identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana
seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan
bagaimana kita menyamakan diri kita (atau secara emosional) dengan
gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana
yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural.
Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses
sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak
dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya
yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa,
dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan.
TEORI S-O-R (Stimulus-Organism-Response)
Merupakan
proses komunikasi yang menimbulkan reaksi khusus, sehingga seseorang dapat
mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.
Unsur-unsur pada model ini adalah pesan (Stimulus), komunikan (Organism), dan
efek (Response). Teori stimulis respon atau yang lebih dikenal sebagai teori SOR (Stimulus Organism Respon).
Dasar dari pada teori ini adalah adanya asumsi bahwa penyebab terjadinya
perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang
berkomunikasi dengan organisme adalah merupakan prinsip-prinsip komunikasi Stimulus yang diberikan kepada
organisme dapat diterima atau dapat ditolak, maka pada proses selanjutnya
terhenti. Untuk memahami lebih jauh, maka kita wajib menyimak penjelasan
mengenai teori stimulus respon dalam komunikasi massa.
a)
Pengertian Teori Stimulus Respon
Stimulus Response
Theory atau S-R theory merupakan Model ini menunjukkan bahwa komunikasi
merupakan proses aksi-reaksi. Sebagaimana teori komunikasi menurut para ahli , teori komunikasi massa , teori efek media massa dan teori agenda setting . Dalam komunikasi massa
berarti stimulus yang diberikan berupa satu pesan, dan tentunya respon yang
diberikan oleh publikpun akan beragam. Hal ini berarti bahwa model ini
mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat non verbal dalam komunikasi verbal , simbol-simbol tertentu akan
merangsang orang lain memberikan respon dengan cara tertentu. Pola ini dapat
diterima secara negatif ataupun positif tergantung bagaimana respon yang
diberikan oleh individu.
Misalnya ketika
dalam sebuah komunikasi massa atau publik mengangkap pesan mengenai seorang
koruptor. Maka respon dari publik dapat menjadi berbagai macam. Ada yang
mengecam, kecewa, biasa saja atau bahkan ada yang sangat marah. Respon ini
dipengaruhi oleh faktor kejiwaan atau psikologis seseorang. Sebab kepribadian
juga akan menentukan bagaimana respon atau sikap akan sesuatu. Reaksi-reaksi
inilah yang kemudian akan digologkan kedalam respon positif atau negatif. Model
inilah yang kemudian mempengaruhi suatu teori klasik komunikasi yaitu
Hypodermic Needle atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori inipun tidak jauh
berbeda dengan model S-O-R, yakni bahwa media secara langsung dan cepat
memiliki efek yang kuat tehadap komunikan. Artinya media diibaratkan sebagai
jarum suntik besar yang memiliki kapasitas sebagai perangsang (S) dan
menghasilkan tanggapan (R) yang kuat pula. Dalam hal ini artinya terdapat
kesinambungan antara teori respon stimulus dan komunikasi massa yang efektif.
b) Konsep
Teori Stimulus Respon
Dalam teori stimulus respon terdapt
unsur-unsur yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga unsur tersebut adalah pesan
(stimulus), komunikan (Organism) dan efek (Respon). Masing-masing unsur
memiliki pengertian sebagai berikut :
·
Pesan
(stimulus, S)
Pesan
atau message merupakan elemen penting dalam komunikasi. Sebab pesan merupakan
pokok bahasan yang ingin disampaikan oleh kemunikator kepada komunikan. Dalam
komunikasi publik, pesan bernilai sangat besar. Karena inilah yang menjafi inti
dari terjalinnya komunikasi. Tanpa adanya pesan maka kamunikasi baik antara
komunikator dan komunikam tidak akan dapat berjalan.
·
Komunikan
(Organism, O): perhatian, pengertian, penerimaan
Komunikan
merupan elemen yang akan menerima stimulus yang diberikan oleh komunikator.
Sikap komunikan dalam menyikapi stimukus yang diteria akan berbeda-bea.
Tergantung kepada masing-masing pribadi menyikapi bentuk stimulus
tersebut. Dalam mempelajari sikap ada tiga variabel yang penting menunjang
proses belajar tersebut yaitu: perhatian, pengertian, penerimaan. Ketiga
variabel imi menjadi penting sebab akan menentukan bagaimana kemudian respon
yang akan diberikan oleh komunikan setelah menerima stimulus. Sikap yang
dimaksud disini adalah kecendrungan bertindakan, berpikir, berpersepsi, dan
merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukanlah
perilaku, tetapi lebih merupakan kecendrungan untuk berprilaku dengan cara
tertentu terhadap objek sikap, dengan demikian pada kenyataan tidak ada istilah
sikap yang berdiri sendiri. Sikap juga bukanlah sekedar rekaman masa lalu,
tetapi juga menentukan apakah seseorang harus setuju atau tidak setuju terhadap
sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan.
·
Efek (respon, R):perubahan sikap
Hosland, mengatakan bahwa
proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses
perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang
terdiri dari :
1. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada
organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima
atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu
dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada
perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
2.
Apabila
stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti
stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
3.
Setelah
itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk
bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
4.
Akhirnya
dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut
mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah,
hanya jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Stimulus
atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau mungkin
ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses
berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan
proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka
terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
Dari penjelasan diatas, bisa dijelaskan bahwa suatu
stimulus atau pesan bisa memberikan perubahan perilaku kepada khalayak
tergantung kepada individunya. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian
yang diberikan kepada komunikan, sehingga komunikan mengerti maksud dari pesan
tersebut, hingga akhirnya tumbuh kesadaran dari komunikan untuk mengubah sikap.
c)
Penerapan Teori Stimulus
Respon dalam Komunikasi Massa
Dalam komunikasi massa atau komunikasi organisasi terdapat elemen paling penting
yakni media. Dimana dalam teori stimukus respon media merupakan komunikator
yang memberikan stimulus kepada komunikan dalam hal ini adalah masyarakat luas
atau publik. Artinya bahwa media memegang peran krusial dalam menciptakan
respon positif dan negatif di masyarakat. Dalam komnukiasi massa sebaiknya
dipilih media yang benar-benar idependen yang dalam hal imi tidak di tunggangi
oleh berbagai kepentingan. Sebab hal-hal diluar hal teknis seperti reputasi dan
kredibilitas media dalam komunikasi massa akan sangat mempengaruhi respon dari
komunikan.
Komunikasi massa akan
menjadi efektif ketika pesan yang disampaikan di reson dan kemudia
memberikan perubahan prilaku di masyarakat. Misalnya isu mengenai
kepedulian lingkungan, atau global warmin. Pada faktanya telah drespon secara
positif dengan munculnya banyak gerakan peduli lingkungan. Sengan demikian maka
secara efektif teori stimulus respon dalam komunikasi massa memebrikan dampak
yang signifikan. Dimana akan membawa perubahan prilaku masyarakat yang akan
semakin peduli terhadap lingkungan. Perubahan prilaku ini akan semakin menular
sehingga memeberikan efek bagi terciptanya lingkungan yang bersih.
Namun, pada kenyataannya
tidak semua stimulus yang diberikan dapat diterima oleh publik. Terdapat juga
penolakan yang memang menjadi kendala tersendiri dalam penyampaian
stimulus di mata publik. Keberhasilan teori stimulus respon dala komunikasi
massa tergantung kepada koneksi antara kemunikan dan komunikator yakni dalam
hal ini media massa. Hubungan inilah yang kemudian menentukan apakan stimulus
akan diterima atau ditolak. Oleh sebab itu, media massa memiliki tugas berat
dalam rangkat menciptakan hubungan positif dengan komunikan sebagaimana psikologi komunikasi
Sasa
Djuarsa Sendjaja, ‘Memahami Teori Komunikasi: Pendekatan, Pengertian, Kerangka
Analis, Dan Perspektif’, Teori Komunikasi, 2014, 1–49
<http://repository.ut.ac.id/4413/3/SKOM4204-M1.pdf>.
Winda
Kustiawan, ‘Perkembangan Teori Komunikasi Kontemporer’, Jurnal Komunika
Islamika : Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Kajian Islam, 6.1 (2019), 15
<https://doi.org/10.37064/jki.v6i1.5517>.
Abdul
Halik, ‘Dokumentasi’, 2013, 36
<http://repositori.uin-alauddin.ac.id/338/1/KOMUNIKASI MASSA full.pdf>.
Laili
Rahayuwati and others, ‘Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan Penyakit Kanker
Dan Menjaga Kualitas Kesehatan Pendahuluan Indonesia Mencatat Kanker Sebagai
Penyebab Kematian Nomor Tujuh Di Indonesia Dan Menjadi Penyebab Kematian Nomor
Dua Di Dunia . Angka Penderita Kanker Selal’, Media Karya Kesehatan,
3.1 (2020), 59–69.
https://youtu.be/HtV_7ylx_7
https://youtu.be/4WaQNTXgDFE
https://youtu.be/WA0ifd2QBC0
https://media.neliti.com/media/publications/167285-ID-penerapan-cultural-studies-dan-aliran-fi.pdf
1
Komentar
Posting Komentar